Keindahan kota yang asri menambah keistimewaan perjalanan
cinta remaja pada jaman itu. Sebuah cinta yang dimulai dari ketidak sengajaan
yang akhirnya menjadi pemicu timbulnya cinta yang sejati. Sebuah tempat yang
indah yang diridhoi Allah menjadi tempat sejarah dalam kehidupanku. “Sa, ayo
kita ke masjid sholat subuh berjama’ah”. suara teriakan sahabatku membangunkan
tidurku. “Iya, bentar lagi aku masih mengantuk, kamu duluan saja.”, “Eh ayo bangun (menarik-narik tangganku) ayo
ke masjid.”
Namaku
Ellisa, saat ini aku belajar di sebuah Universitas negeri di Jawa Timur. Aku
biasa dipanggil Isa, jauh dari orangtua yang membuatku kesepian, tapi itu hanya
kurasakan pada masa-masa awal, sekarang
aku tidak pernah merasa kesepian karena aku mempunyai sahabat baik Ella, Raka dan Tias adalah sahabatku. Dari beberapa sahabatku perempuan, aku
mendapat julukan perempuan tomboy. Perempuan
yang tidak begitu memahami agama dan hanya tau perintah dan larangannya saja.
Tapi setelah
sholat subuh itu rasa ingin tau lebih dalam tentang islam sangatlah kuat, aneh
dan aku tidak tau yang sedang aku alami. Suara itu mengetarkan hatiku. Khayaallah sholah, khayaallah sholah,
allahuakbar allahuakbar, lailahaillalah. Sederhana tapi tidak tau sangat
menyentuh dalam hatiku. Suara itu terus mengusik pikiranku dalam seharian ini.
Tidak seperti biasa, Subuh ini aku bangun lebih awal dari
sahabatku Ella, iya dia sahabatku dan juga teman tidurku. Suara itu terdengar
lagi dan seolah aku terhipnotis oleh suara itu langsungku mengambil wudhu dan
bergegas berangkat ke masjid. Tidak lupa aku bangunkan sahabatku dan kita pergi
bersama-sama. Setelah sampai aku mencari-cari sumber suara itu dan aku
menemukannya. Seorang laki-laki gagah yang sedang duduk bersilah adalah laki-laki yang mempuyai
suara itu. Tapi sayang yang bisa
kuliahat hanya bayangan pungungnya saja dibalik sebuah tirai pembatas.
Suatu hari aku pergi kuliah berjalan kaki dengan
sahabatku Ella dan Tias. Tak sengaja aku melihat punggung itu lagi, punggung
yang ku temui di masjid, “Dia ada disini” dalam hatiku sontak bertanya, “sedang
apa dia disini, apa dia juga kuliah disini?”.
Tapi lagi-lagi yang ku temui hanya punggungnya saja. Rasa penasaran semakin
terbesit dibenak ku siapa pemilik suara dan punggung itu.
Setelah selesai kuliah aku memutuskan untuk pergi ke
masjid sholat dhuhur berjama’ah sekaligus mencari tau tentang pemilik suara dan punggung
itu. Beberapa menit kemudian seorang laki-laki memasuki gerbang masjid dengan
mengenakan sarung dengan baju kokoh tak
lupa kopyah putih dikepalanya. Perawakannya bersih, tinggi. Dalam hatiku terbesit “apakah dia
pemiliknya?”.
Dan ternyata suara itu terdengar lagi dari laki-laki yang
tadi memasuki gerbang masjid. Tidak ku duga, pemiliki suara merdu yang membuat
nyaman hatiku, dan pemilik punggung itu adalah sahabatku sendiri Raka. Memang
kita bersahabat tapi akhir-akhir ini dia selalu sibuk dan tidak mau ikut acara
pergi bareng. Kurang lebih selama satu bulan ini Raka seolah menghilang tak ada
kabar. Tak sampai disini aku semakin penasaran dengan Raka, tidak kusangka dia
memiliki suara yang sangat merdu. Dan aku memutuskan untuk menunggunya setelah
selesai sholat nanti.
Satu dua jam aku menunggunya dan akhirnya dia keluar dari
masjid. “Raka, lo Raka ka?, kemana aja lo?, kok nggak pernah kumpul sama
kita-kita, terus penampilan lo berubah?” pertanyaan aku lontarkan bertubi-tubi
karena rasa penasaran itu. “iya Sa, aku Raka” hanya itu yang terucap dari
mulutnya, semua pertanyaanku tidak dijawab dan dia bergegas pergi. “maaf Sa,
aku ada urusan, aku permisi dulu, Assalamualaikum.” Dan aku masih berdiri
mematung dan hanya menjawab salamnya “ Waalaikumsalam”.
Setelah beberapa hari aku menyembunyikan kalau aku
bertemu Raka dimasjid kepada sahabat-sahabatku aku tak tahan lagi. Hari ini aku
bercerita kepada Ella dan Tias kalau aku ketemu Raka. Anehnya mereka berdua
tidak kaget dengan perubahan Raka, bahkan mereka sudah tau sebelumnya. Dan
menyembunyikan ini dari ku. Dan ternyata ada alasan dibalik berubahnya Raka.
Dan itu karna aku.
Ella bercerita panjang lebar berubahnya Raka. “Raka
berubah karna kamu Sa, kamu pernah bilang kamu menginginkan pendamping hidup
yang baik dan mengerti agama supaya kamu bisa dibimbing menjadi wanita
sholeha”. Kata-kata yang sangat menusuk hatiku dan membuat Air jatuh dari
kelopak mataku sangat deras. Setelah beberapa hari aku memutuskan untuk
berhijrah mendalami agama Islam.
Karena perubahanku banyak teman-teman bahkan sahabatku sedikit meragukannya. Mereka
bertanya ini itu. Yang pasti saat ini aku tau diluar sana ada laki-laki baik
yang menunggunku, dan aku yakin laki-laki yang baik hanya untuk wanita yang
baik pula dan sebaliknya, maka dari itu aku berhijrah agar aku pantas bersanding
dengan laki-laki baik itu.
Dan setelah aku lulus kuliah, seorang laki-laki yang dulu
hanya punggungnya yang kulihat datang kerumah menemui Ayah dan Ibuku. “Ayah,
Ibu, saya Abdul Raka meminta izin untuk meminang putri cantik Ayah ibu yaitu
Ellisa dewi. Dan saya janji akan menemaninya dan berusaha membahagiakan dia.”
Sontak aku kaget dan airmata ku menetes, karena laki-laki baik yang aku tunggu
akhirnya datang untuk meminangku. Jantung berdetak kencang, hati sungguh
bahagia, tak hentinya batin menggucap rasa syukur kepada Allah.
Ayah, ibuku merestui dan menyerahkan semua keputusan
kepadaku. “Ellisa dewi apakah kamu menerima pinanganku? Raka berbicara dengan
tegas, Aku hanya tersenyum dan mengucap “Bismillahirohmanirohiim, semoga Allah
meridhoi.” Sontak kata yang keluar dari
mulut Raka “Alhamdulillahhirobilalamin”.
Setelah 3 bulan Raka meminang, kita akhirnya menikah dan
hidup bahagia. Dan kita merasakan
indahnya pacaran setelah menikah. Dan punggung itu sekarang menjadi sandaran
kebahagiaan dan duka ku, Punggung itu menjadi milikku.