Minggu, 10 Juli 2022

Overthinking

 

Overthinking berlebih

Gak tau yang dipirkan apa

Yang pasti kegelisaan menuju  kedewasaan

Bukan tak bersyukur atas segalanya

Tapi ada sedikit rasa takut akan kekecewaan

Menaruk ekspektasi diri terlalu tinggi

Terbebani dengan ekspektasi banyak orang

Yang takut hasilnya akan mengecewakan

 

Menjadi dewasa harus bisa berdiri dengan kaki dan sigap dengan pundak sendiri

Banyak yang berusaha menjatuhkan, merobohkan bahkan membunuh secara perlahan

Pondasi diri harus kuat Ketika diterpa masalah

Harus kuat bertahan meski tak mampu menahan

Harus kuat mental meski pikiran sebenarnya kacau

Dipaksa bertahan dengan keadaan

Meski jiwa rapuh tak terbilang

Jumat, 24 April 2020

Angin Rindu

Tanpa wujud kau menerpa wajahku
Membuat sejuk membersamai lamunanku
Dengan hati yang sedang memendam rindu
Kau hadir tanpa aku suruh

Angin iya angin
Yang menemani setiap malamku
Mendinginkan setiap egoku
Datang bersama kenangan lamaku
Bersama nafas semilirmu

Kenangan indah bersama kekasihku
Yang selalu jadi teman disetiap ceritaku
Menemani setiap perjalanan hidupku
Hingga akhirnya pergi tanpa pamit dulu

Kenangan itu selalu membekas dalam pikiranku
Menusuk setiap relung jantungku
Membuat lemah daya tahan tubuh
Hingga hanya bisa melamun dalam semu

Angin...
Bersamamu setiap malam aku merindu

Sabtu, 04 April 2020

Saatnya pulang

Sudah saatnya pulang setelah mengejar sebuah raga yang tak bernyawa
Sudah seharusnya berhenti berharap pada raga yang tak menerima
Bahkan seharusnya melupakan untuk raga yang tak pernah mau singgah

Iya, saatnya pulang
Mengistirahatkan hati yang lelah
Lelah mengejar yang tak pernah tergapai
Mengubur rasa yang bahkan tak pernah sampai

Sekarang, saatnya pulang
Sebelum palung laut makin dalam
Sebelum nanti malah tak bisa merelakan
Iya sudah tepat, sekarang saatnya pulang.

Sabtu, 18 Januari 2020

Dulu menjadi sekarang



Dulu minta uang buat jajan seenak jidat tanpa tau susah mencarinya

Dulu dengan mudahnya merengek didepan umum tanpa malu meminta mainan baru agar bisa disombongkan ke temen" sekolah

Dulu tak banyak masalah, paling" masalahnya cuma gak dibolehin ibu jajan es sembarangan pinggir sekolah tapi bandel akhirnya ketahuan dan berakhir nangis dipojokan

Dulu punya banyak banget temen main, kemana" selalu rame", sampek" membentuk sendiri sebuah keluarga ada yang jadi kepala keluarga, ibu, kakak, adek, nenek, kakek, opa, oma, cucu, cicit dan masih banyak lagi😅

Dulu punya aktifitas rutin setiap libur sekolah jalan" pagi buta, siang" main ke sawah, kadang ngambilin mangga tetanga, sorenya bersepeda, sampek kadang pulang rumah sudah gak dianggap keluarga

Dulu gak pernah mikir masa depan yang penting besok makan sama main udah itu aja

Dulu sering ditanya cita" kalo udah gede mau jadi apa? guru, dokter, polisi, tentara pasti kebanyakan itu jawabanya

Hemm itu dulu tapi sekarang sudah berbeda, dituntut untuk dewasa jadi harus mengubah dulu menjadi sekarang...

Sekarang mau minta uang terus"an agak sedikit sungkan, akhirnya harus puter otak untuk ngirit uang jatah

Sekarang udah gak perlu mainan baru lagi, yang dibutuhin sekarang hanya kebersaman bareng keluarga tercinta

Sekarang masalah terus saja datang, mungkin ujian dari proses pendewasaan, tapi tetap syukuri saja ya...

Sekarang semakin dewasa semakin sedikit teman, karena harus punya circle pertemanan sendiri, gak papa sedikit teman yang bener" tau kita dan bisa menerima kita apa adanya

Sekarang libur sekolah udah gak jaman main keluar rumah, cukup youtube.an sambil rebahan dikamar atau di depan tv pun bisa

Sekarang tambah hari bulan tahun selalu mikir masa depan, besok mau ngapain, bisa gak ya hidup mandiri, bisa gak ya cari uang sendiri, bisa gak ya ngebahagiain orang tua, bisa gak ya blablalabla

Sekarang kalo ditanya cita" waktu kecil kan mau jadi ini itu, kalo udah gede gimana mau mengubah? Jawabnya gak tau bingung mau jadi apa, yah kadang gak banyak yang tetep kekeh sama cita" masa kecilnya, tapi banyak juga yang melenceng mengubah cita" masa kecilnya menjadi seseorang yang sukses aja lah pokoknya.

Senin, 02 September 2019

Pendam dalam Diam

Sebuah rasa,
Awal tumbuh sebesar biji sawi
Perlahan membesar tak pernah berhenti
Dengan sebuah pertemuan tanpa ucap
Tak tau rasa ini datang dari mana
Hanya sebuah sikap yang terlihat

Aku selalu mensyukuri rasa ini
Rasa yang dianugerahkan untuk ku
Aku tak tau apa yang harus ku lakukan
Apa aku harus menjaga rasa ini
Atau  hanya kagum yang ku punya
Entahlah,,

Namun aku takut rasa ini salah
Rasa yang tak terbalas nantinya
Biarkan rasa ini akan kupendam
Sampai sang waktu akan menjawabnya
Entah akan dihilangkan dan digantikan dengan rasa-rasa yang lain
Atau rasa yang akan menemukan jawaban yang indah
Untuk sekarang biarkan ku pendam dalam diam

Menjadi yang lebih baik



          Aku bersyukur atas Hijrahku sekarang. Dulu aku adalah perempuan tomboy yang selalu berpakaian seperti seorang laki-laki, memakai celana jens, baju ketat, kerudung minimalis, dan juga minim akan agama. Yang aku tau hanya sholat wajib dan puasa ramadan, yang selalu aku lakukan. Dan masalah menutup aurat, aku tau kewajiban seorang perempuan adalah menutup auratnya, aku pun melakukannya. Tapi yang aku tau hanya cukup memakai baju panjang dan mengenakan kerudung, itu sudah menutup aurat. Apa kalian juga berpikiran sama sepertiku?

Namaku  Ama Aditya, panggil saja Ama. Ini adalah kisah hijrahku yang selalu aku syukuri. Yang menurutku Hijrah yang indah. Awalnya hanya dari sebuah vidio di sosial media  yang membukakan jalan Hijrahku. Sebuah kisah islami, kisah yang disampaikan seorang uztad, yang aku lupa namanya, hehehe...

 Isi dari kisah itu tentang perempuan yang menutup auratnya. Uztad itu berkisah bahwa seorang wanita yang sudah menutup aurat tetapi memakai celana atau pakaian ketat yang memperlihatkan lekuk tubuhnya sama saja mereka bertelanjang. Kata-kata itu yang selalu menjadi beban dipikiran ku. “Berarti aku belum menutup aurat, bahkan aku setiap hari telanjang dihadapan semua orang bahkan di hadapan Allah (dalam hatiku bergejolak).” Air mata tak hentinya mengalir, hati merasa tak terima.

Dan akhirnya aku memantapkan hati untuk berhijrah, belajar menutup auratku dengan benar. Dan Alhamdulillah keluargaku dan teman-temanku mereka menerima perubahanku. Bahkan aku merasakan ketenangan dalam hati sekarang, aku nyaman dengan penampilanku, aku selalu bersyukur atas apa yang Allah berikan kepada ku. Dan sekarang aku merasa selalu dimudahkan dalam setiap urusanku setelah aku berhijrah.


*proses hijrah teman 





Kamis, 07 Juni 2018

Punggung Itu Milikku


Keindahan kota yang asri menambah keistimewaan perjalanan cinta remaja pada jaman itu. Sebuah cinta yang dimulai dari ketidak sengajaan yang akhirnya menjadi pemicu timbulnya cinta yang sejati. Sebuah tempat yang indah yang diridhoi Allah menjadi tempat sejarah dalam kehidupanku. “Sa, ayo kita ke masjid sholat subuh berjama’ah”. suara teriakan sahabatku membangunkan tidurku. “Iya, bentar lagi aku masih mengantuk, kamu duluan saja.”,  “Eh ayo bangun (menarik-narik tangganku) ayo ke masjid.”

            Namaku Ellisa, saat ini aku belajar di sebuah Universitas negeri di Jawa Timur. Aku biasa dipanggil Isa, jauh dari orangtua yang membuatku kesepian, tapi itu hanya kurasakan pada masa-masa awal,  sekarang aku tidak pernah merasa kesepian karena aku mempunyai sahabat baik  Ella, Raka dan Tias adalah sahabatku.  Dari beberapa sahabatku perempuan, aku mendapat julukan perempuan tomboy.  Perempuan yang tidak begitu memahami agama dan hanya tau perintah dan larangannya saja.

 Tapi setelah sholat subuh itu rasa ingin tau lebih dalam tentang islam sangatlah kuat, aneh dan aku tidak tau yang sedang aku alami. Suara itu mengetarkan hatiku. Khayaallah sholah, khayaallah sholah, allahuakbar allahuakbar, lailahaillalah. Sederhana tapi tidak tau sangat menyentuh dalam hatiku. Suara itu terus mengusik pikiranku dalam seharian ini.

Tidak seperti biasa, Subuh ini aku bangun lebih awal dari sahabatku Ella, iya dia sahabatku dan juga teman tidurku. Suara itu terdengar lagi dan seolah aku terhipnotis oleh suara itu langsungku mengambil wudhu dan bergegas berangkat ke masjid. Tidak lupa aku bangunkan sahabatku dan kita pergi bersama-sama. Setelah sampai aku mencari-cari sumber suara itu dan aku menemukannya. Seorang laki-laki gagah yang sedang  duduk bersilah adalah laki-laki yang mempuyai suara itu.  Tapi sayang yang bisa kuliahat hanya bayangan pungungnya saja dibalik sebuah tirai pembatas.

Suatu hari aku pergi kuliah berjalan kaki dengan sahabatku Ella dan Tias. Tak sengaja aku melihat punggung itu lagi, punggung yang ku temui di masjid, “Dia ada disini” dalam hatiku sontak bertanya, “sedang apa dia disini, apa dia juga kuliah disini?”.  Tapi lagi-lagi yang ku temui hanya punggungnya saja. Rasa penasaran semakin terbesit dibenak ku siapa pemilik suara dan punggung itu.

Setelah selesai kuliah aku memutuskan untuk pergi ke masjid sholat dhuhur berjama’ah sekaligus  mencari tau tentang pemilik suara dan punggung itu. Beberapa menit kemudian seorang laki-laki memasuki gerbang masjid dengan mengenakan sarung dengan  baju kokoh tak lupa kopyah putih dikepalanya. Perawakannya bersih, tinggi.  Dalam hatiku terbesit “apakah dia pemiliknya?”.

Dan ternyata suara itu terdengar lagi dari laki-laki yang tadi memasuki gerbang masjid. Tidak ku duga, pemiliki suara merdu yang membuat nyaman hatiku, dan pemilik punggung itu adalah sahabatku sendiri Raka. Memang kita bersahabat tapi akhir-akhir ini dia selalu sibuk dan tidak mau ikut acara pergi bareng. Kurang lebih selama satu bulan ini Raka seolah menghilang tak ada kabar. Tak sampai disini aku semakin penasaran dengan Raka, tidak kusangka dia memiliki suara yang sangat merdu. Dan aku memutuskan untuk menunggunya setelah selesai sholat nanti.

Satu dua jam aku menunggunya dan akhirnya dia keluar dari masjid. “Raka, lo Raka ka?, kemana aja lo?, kok nggak pernah kumpul sama kita-kita, terus penampilan lo berubah?” pertanyaan aku lontarkan bertubi-tubi karena rasa penasaran itu. “iya Sa, aku Raka” hanya itu yang terucap dari mulutnya, semua pertanyaanku tidak dijawab dan dia bergegas pergi. “maaf Sa, aku ada urusan, aku permisi dulu, Assalamualaikum.” Dan aku masih berdiri mematung dan hanya menjawab salamnya “ Waalaikumsalam”.

Setelah beberapa hari aku menyembunyikan kalau aku bertemu Raka dimasjid kepada sahabat-sahabatku aku tak tahan lagi. Hari ini aku bercerita kepada Ella dan Tias kalau aku ketemu Raka. Anehnya mereka berdua tidak kaget dengan perubahan Raka, bahkan mereka sudah tau sebelumnya. Dan menyembunyikan ini dari ku. Dan ternyata ada alasan dibalik berubahnya Raka. Dan itu karna aku.

Ella bercerita panjang lebar berubahnya Raka. “Raka berubah karna kamu Sa, kamu pernah bilang kamu menginginkan pendamping hidup yang baik dan mengerti agama supaya kamu bisa dibimbing menjadi wanita sholeha”. Kata-kata yang sangat menusuk hatiku dan membuat Air jatuh dari kelopak mataku sangat deras. Setelah beberapa hari aku memutuskan untuk berhijrah mendalami agama Islam.

Karena perubahanku banyak teman-teman  bahkan sahabatku sedikit meragukannya. Mereka bertanya ini itu. Yang pasti saat ini aku tau diluar sana ada laki-laki baik yang menunggunku, dan aku yakin laki-laki yang baik hanya untuk wanita yang baik pula dan sebaliknya, maka dari itu aku berhijrah agar aku pantas bersanding dengan laki-laki baik itu.

Dan setelah aku lulus kuliah, seorang laki-laki yang dulu hanya punggungnya yang kulihat datang kerumah menemui Ayah dan Ibuku. “Ayah, Ibu, saya Abdul Raka meminta izin untuk meminang putri cantik Ayah ibu yaitu Ellisa dewi. Dan saya janji akan menemaninya dan berusaha membahagiakan dia.” Sontak aku kaget dan airmata ku menetes, karena laki-laki baik yang aku tunggu akhirnya datang untuk meminangku. Jantung berdetak kencang, hati sungguh bahagia, tak hentinya batin menggucap rasa syukur kepada Allah.

Ayah, ibuku merestui dan menyerahkan semua keputusan kepadaku. “Ellisa dewi apakah kamu menerima pinanganku? Raka berbicara dengan tegas, Aku hanya tersenyum dan mengucap “Bismillahirohmanirohiim, semoga Allah meridhoi.”  Sontak kata yang keluar dari mulut Raka “Alhamdulillahhirobilalamin”.

Setelah 3 bulan Raka meminang, kita akhirnya menikah dan hidup bahagia. Dan kita  merasakan indahnya pacaran setelah menikah. Dan punggung itu sekarang menjadi sandaran kebahagiaan dan duka ku, Punggung itu menjadi milikku.