Kamis, 07 Juni 2018

Punggung Itu Milikku


Keindahan kota yang asri menambah keistimewaan perjalanan cinta remaja pada jaman itu. Sebuah cinta yang dimulai dari ketidak sengajaan yang akhirnya menjadi pemicu timbulnya cinta yang sejati. Sebuah tempat yang indah yang diridhoi Allah menjadi tempat sejarah dalam kehidupanku. “Sa, ayo kita ke masjid sholat subuh berjama’ah”. suara teriakan sahabatku membangunkan tidurku. “Iya, bentar lagi aku masih mengantuk, kamu duluan saja.”,  “Eh ayo bangun (menarik-narik tangganku) ayo ke masjid.”

            Namaku Ellisa, saat ini aku belajar di sebuah Universitas negeri di Jawa Timur. Aku biasa dipanggil Isa, jauh dari orangtua yang membuatku kesepian, tapi itu hanya kurasakan pada masa-masa awal,  sekarang aku tidak pernah merasa kesepian karena aku mempunyai sahabat baik  Ella, Raka dan Tias adalah sahabatku.  Dari beberapa sahabatku perempuan, aku mendapat julukan perempuan tomboy.  Perempuan yang tidak begitu memahami agama dan hanya tau perintah dan larangannya saja.

 Tapi setelah sholat subuh itu rasa ingin tau lebih dalam tentang islam sangatlah kuat, aneh dan aku tidak tau yang sedang aku alami. Suara itu mengetarkan hatiku. Khayaallah sholah, khayaallah sholah, allahuakbar allahuakbar, lailahaillalah. Sederhana tapi tidak tau sangat menyentuh dalam hatiku. Suara itu terus mengusik pikiranku dalam seharian ini.

Tidak seperti biasa, Subuh ini aku bangun lebih awal dari sahabatku Ella, iya dia sahabatku dan juga teman tidurku. Suara itu terdengar lagi dan seolah aku terhipnotis oleh suara itu langsungku mengambil wudhu dan bergegas berangkat ke masjid. Tidak lupa aku bangunkan sahabatku dan kita pergi bersama-sama. Setelah sampai aku mencari-cari sumber suara itu dan aku menemukannya. Seorang laki-laki gagah yang sedang  duduk bersilah adalah laki-laki yang mempuyai suara itu.  Tapi sayang yang bisa kuliahat hanya bayangan pungungnya saja dibalik sebuah tirai pembatas.

Suatu hari aku pergi kuliah berjalan kaki dengan sahabatku Ella dan Tias. Tak sengaja aku melihat punggung itu lagi, punggung yang ku temui di masjid, “Dia ada disini” dalam hatiku sontak bertanya, “sedang apa dia disini, apa dia juga kuliah disini?”.  Tapi lagi-lagi yang ku temui hanya punggungnya saja. Rasa penasaran semakin terbesit dibenak ku siapa pemilik suara dan punggung itu.

Setelah selesai kuliah aku memutuskan untuk pergi ke masjid sholat dhuhur berjama’ah sekaligus  mencari tau tentang pemilik suara dan punggung itu. Beberapa menit kemudian seorang laki-laki memasuki gerbang masjid dengan mengenakan sarung dengan  baju kokoh tak lupa kopyah putih dikepalanya. Perawakannya bersih, tinggi.  Dalam hatiku terbesit “apakah dia pemiliknya?”.

Dan ternyata suara itu terdengar lagi dari laki-laki yang tadi memasuki gerbang masjid. Tidak ku duga, pemiliki suara merdu yang membuat nyaman hatiku, dan pemilik punggung itu adalah sahabatku sendiri Raka. Memang kita bersahabat tapi akhir-akhir ini dia selalu sibuk dan tidak mau ikut acara pergi bareng. Kurang lebih selama satu bulan ini Raka seolah menghilang tak ada kabar. Tak sampai disini aku semakin penasaran dengan Raka, tidak kusangka dia memiliki suara yang sangat merdu. Dan aku memutuskan untuk menunggunya setelah selesai sholat nanti.

Satu dua jam aku menunggunya dan akhirnya dia keluar dari masjid. “Raka, lo Raka ka?, kemana aja lo?, kok nggak pernah kumpul sama kita-kita, terus penampilan lo berubah?” pertanyaan aku lontarkan bertubi-tubi karena rasa penasaran itu. “iya Sa, aku Raka” hanya itu yang terucap dari mulutnya, semua pertanyaanku tidak dijawab dan dia bergegas pergi. “maaf Sa, aku ada urusan, aku permisi dulu, Assalamualaikum.” Dan aku masih berdiri mematung dan hanya menjawab salamnya “ Waalaikumsalam”.

Setelah beberapa hari aku menyembunyikan kalau aku bertemu Raka dimasjid kepada sahabat-sahabatku aku tak tahan lagi. Hari ini aku bercerita kepada Ella dan Tias kalau aku ketemu Raka. Anehnya mereka berdua tidak kaget dengan perubahan Raka, bahkan mereka sudah tau sebelumnya. Dan menyembunyikan ini dari ku. Dan ternyata ada alasan dibalik berubahnya Raka. Dan itu karna aku.

Ella bercerita panjang lebar berubahnya Raka. “Raka berubah karna kamu Sa, kamu pernah bilang kamu menginginkan pendamping hidup yang baik dan mengerti agama supaya kamu bisa dibimbing menjadi wanita sholeha”. Kata-kata yang sangat menusuk hatiku dan membuat Air jatuh dari kelopak mataku sangat deras. Setelah beberapa hari aku memutuskan untuk berhijrah mendalami agama Islam.

Karena perubahanku banyak teman-teman  bahkan sahabatku sedikit meragukannya. Mereka bertanya ini itu. Yang pasti saat ini aku tau diluar sana ada laki-laki baik yang menunggunku, dan aku yakin laki-laki yang baik hanya untuk wanita yang baik pula dan sebaliknya, maka dari itu aku berhijrah agar aku pantas bersanding dengan laki-laki baik itu.

Dan setelah aku lulus kuliah, seorang laki-laki yang dulu hanya punggungnya yang kulihat datang kerumah menemui Ayah dan Ibuku. “Ayah, Ibu, saya Abdul Raka meminta izin untuk meminang putri cantik Ayah ibu yaitu Ellisa dewi. Dan saya janji akan menemaninya dan berusaha membahagiakan dia.” Sontak aku kaget dan airmata ku menetes, karena laki-laki baik yang aku tunggu akhirnya datang untuk meminangku. Jantung berdetak kencang, hati sungguh bahagia, tak hentinya batin menggucap rasa syukur kepada Allah.

Ayah, ibuku merestui dan menyerahkan semua keputusan kepadaku. “Ellisa dewi apakah kamu menerima pinanganku? Raka berbicara dengan tegas, Aku hanya tersenyum dan mengucap “Bismillahirohmanirohiim, semoga Allah meridhoi.”  Sontak kata yang keluar dari mulut Raka “Alhamdulillahhirobilalamin”.

Setelah 3 bulan Raka meminang, kita akhirnya menikah dan hidup bahagia. Dan kita  merasakan indahnya pacaran setelah menikah. Dan punggung itu sekarang menjadi sandaran kebahagiaan dan duka ku, Punggung itu menjadi milikku.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar