Senin, 02 September 2019

Menjadi yang lebih baik



          Aku bersyukur atas Hijrahku sekarang. Dulu aku adalah perempuan tomboy yang selalu berpakaian seperti seorang laki-laki, memakai celana jens, baju ketat, kerudung minimalis, dan juga minim akan agama. Yang aku tau hanya sholat wajib dan puasa ramadan, yang selalu aku lakukan. Dan masalah menutup aurat, aku tau kewajiban seorang perempuan adalah menutup auratnya, aku pun melakukannya. Tapi yang aku tau hanya cukup memakai baju panjang dan mengenakan kerudung, itu sudah menutup aurat. Apa kalian juga berpikiran sama sepertiku?

Namaku  Ama Aditya, panggil saja Ama. Ini adalah kisah hijrahku yang selalu aku syukuri. Yang menurutku Hijrah yang indah. Awalnya hanya dari sebuah vidio di sosial media  yang membukakan jalan Hijrahku. Sebuah kisah islami, kisah yang disampaikan seorang uztad, yang aku lupa namanya, hehehe...

 Isi dari kisah itu tentang perempuan yang menutup auratnya. Uztad itu berkisah bahwa seorang wanita yang sudah menutup aurat tetapi memakai celana atau pakaian ketat yang memperlihatkan lekuk tubuhnya sama saja mereka bertelanjang. Kata-kata itu yang selalu menjadi beban dipikiran ku. “Berarti aku belum menutup aurat, bahkan aku setiap hari telanjang dihadapan semua orang bahkan di hadapan Allah (dalam hatiku bergejolak).” Air mata tak hentinya mengalir, hati merasa tak terima.

Dan akhirnya aku memantapkan hati untuk berhijrah, belajar menutup auratku dengan benar. Dan Alhamdulillah keluargaku dan teman-temanku mereka menerima perubahanku. Bahkan aku merasakan ketenangan dalam hati sekarang, aku nyaman dengan penampilanku, aku selalu bersyukur atas apa yang Allah berikan kepada ku. Dan sekarang aku merasa selalu dimudahkan dalam setiap urusanku setelah aku berhijrah.


*proses hijrah teman 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar