Aku
bersyukur atas Hijrahku sekarang. Dulu aku adalah perempuan tomboy yang selalu
berpakaian seperti seorang laki-laki, memakai celana jens, baju ketat, kerudung
minimalis, dan juga minim akan agama. Yang aku tau hanya sholat wajib dan puasa
ramadan, yang selalu aku lakukan. Dan masalah menutup aurat, aku tau kewajiban
seorang perempuan adalah menutup auratnya, aku pun melakukannya. Tapi yang aku
tau hanya cukup memakai baju panjang dan mengenakan kerudung, itu sudah menutup
aurat. Apa kalian juga berpikiran sama sepertiku?
Namaku Ama Aditya, panggil saja Ama. Ini adalah kisah
hijrahku yang selalu aku syukuri. Yang menurutku Hijrah yang indah. Awalnya hanya
dari sebuah vidio di sosial media yang
membukakan jalan Hijrahku. Sebuah kisah islami, kisah yang disampaikan seorang
uztad, yang aku lupa namanya, hehehe...
Isi dari kisah itu tentang perempuan yang
menutup auratnya. Uztad itu berkisah bahwa seorang wanita yang sudah menutup
aurat tetapi memakai celana atau pakaian ketat yang memperlihatkan lekuk
tubuhnya sama saja mereka bertelanjang. Kata-kata itu yang selalu menjadi beban
dipikiran ku. “Berarti aku belum menutup aurat, bahkan aku setiap hari
telanjang dihadapan semua orang bahkan di hadapan Allah (dalam hatiku bergejolak).”
Air mata tak hentinya mengalir, hati merasa tak terima.
Dan akhirnya aku memantapkan
hati untuk berhijrah, belajar menutup auratku dengan benar. Dan Alhamdulillah
keluargaku dan teman-temanku mereka menerima perubahanku. Bahkan aku merasakan
ketenangan dalam hati sekarang, aku nyaman dengan penampilanku, aku selalu bersyukur
atas apa yang Allah berikan kepada ku. Dan sekarang aku merasa selalu
dimudahkan dalam setiap urusanku setelah aku berhijrah.
*proses hijrah teman
Tidak ada komentar:
Posting Komentar