Selasa, 05 Juni 2018

My First Love is My True Love

My First Love is My True Love




          “Ayah, ibu dinda berangkat dulu ya”. Berdiri dari kursi makan, menarik ransel birunya, bersalaman, mencium pipi dan kemudian dinda berangkat sekolah. Aktifitas pagi sebuah keluarga kecil yang sungguh harmonis. Tapi sungguh tak dapat dirasakan lagi oleh dinda semenjak dua tahun yang lalu setelah ayahnya meninggal karena kecelakaan.
          Adinda seorang gadis cantik yang saat ini duduk dikelas 3 SMA di Jombang. Dia salah satu murid berprestasi disekolahnya. Mimpinya untuk melanjutkan ke perguruan tinggi tak pernah pupus. Merasa Ibunya tak akan sanggup menyekolahkannya ke perguruan tinggi, dinda tetap semangat untuk mencari beasiswa agar dia bisa kuliah.
          Matematika adalah pelajaran favoritnya, kimia, fisika harus dia takhlukkan untuk menghadapi ujian masuk perguruan tinggi. Dua bulan terakhir sahabat dinda adalah mereka, buku-buku tebal yang berisi angka-angka, tulisan-tulisan kecil, kata-kata ilmiah yang sebenarnya menyedihkan sekali tapi dinda tetap samangat belajar agar dia bisa lolos tes.
          Restu dari Ayahnya disurga dan lantunan doa Ibunya setiap malam juga kerja keras dinda selama ini membuahkan hasil, dinda mendapat beasiswa diterima di salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya yaitu Universitas Airlangga.
          Adinda menjalani masa-masa OSPEK, kuliah, tugas dengan bahagia, dia tak pernah mengeluh karena dia sudah menancapkan tujuan utamanya dalam hati. Beberapa bulan di Surabaya dinda sudah mendapat sahabat-sahabat yang baik. Rio, anita dan tegar adalah sahabat dinda. Mereka berempat berbeda fakultas, dengan begitu mereka bisa saling bertukar ilmu dan cerita bersama.
          Sudah hampir tiga bulan dinda tidak pulang kerumah karena tugas kuliah dan juga kesibukan dinda dalam berorganisasi. Suatu hari dinda mendapat telpon dari pamannya dan menyuruh dinda untuk pulang. Seusai menerima telpon dari pamannya, jantung, hati juga pikiran dinda tak karuan, dia takut, cemas dan entahlah dia tidak tahu apa yang saat ini terjadi dengan keluarganya. Tapi dia mencoba sekuat hati menenangkan hatinya untuk tidak berfikiran negatif.
          Dengan diantar ketiga sahabatnya diterminal bungurasih Surabaya, dinda secepatnya menaiki bus dan ingin segera pulang. Kali ini bus antarkota agak lengang karena mungkin bukan hari libur yang biasanya selalu berdesakan, pengap dan tak pernah dapat kursi. Kali ini bus tak terlalu ramai sehingga dinda masih ada tempat untuk duduk meskipun seperti itu hati dinda tetap saja gelisah dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang sangat membingungkannya, karena tak seperti biasa pamannya menyuruhnya untuk pulang. Dinda terus berdoa dan mencoba meyakinkan hatinya kalau tidak akan terjadi apa-apa dengan kelularganya, apalagi Ibundanya tercinta.
          Pengamen, pedagang, supir, kondektur, penumpang, ramai riuh suasana dalam bus tak dihiraukannya, saat ini yang ada di hatinya hanyalah keluarga tercintanya. Tiga jam sudah dinda didalam bus, turun, jalan dan naik angkot lagi menuju rumahnya. Lima belas menit akhirnya sampai rumah. Berkerumunan orang berjilbab, dan juga lelaki dewasa mengerumuni rumahnya, hatinya semakin kacau mencoba bertanya tak ada jawaban, tas ransel terlempar, kaki mencoba berlari tapi rasanya berat sekali, tetesan air mata bagai hujan deras yang tak pernah berhenti menetes. Dinda berhenti tepat didepan pintu rumahnya, dinda terdiam, seluruh tubuhnya kini bagai selembar daun yang jatuh yang tak punya kekuatan melawan arah angin, matanya tak lagi dapat meneteskan air mata.
          Terlihat sesosok yang sangat cantik yang amat dia cintainya sedang tertidur nyenyak, sekuat tenaga dinda melangkahkan kaki mendekatinya, duduk disampingnya, membuka selimut yang kini menghangatkan tubuh ibunya. “Ibu dinda pulang, ibu sekarang lagi tidur ya, ibu capek? Dinda pulang bu, sambut dinda ibu, beri senyuman indah ibu untuk dinda, ibu, apa ibu marah sama dinda, maafkan dinda bu, dinda selalu nakal dan menyusahkan ibu, dinda janji tidak akan nakal lagi, tidak mau menyusahkan ibu lagi, ibu bangun ya,, ibu,,,,,, dinda sayang ibu....” semakin lirih suara dinda dan dia pun tertidur disamping Ibundanya.
          Berat, pusing, sembab dinda mencoba membuka matanya dan ini adalah kenyataan yang harus diterima dinda. Dinda selalu berharap secepatnya bisa bangun dari mimpi buruknya, tapi ini bukan mimpi, tuhan berkehendak lain, dia mencoba menenangkan hatinya bahwa Allah lebih sayang Ibundanya dan dia harus mengikhlaskan kepergian Ibunya tersayang.
          Hari keempat setelah meninggalnya ibu dinda, sahabat-sahabat dinda datang untuk mengucapkan belasungkawa juga menghibur dinda, kali ini tidak hanya bertiga tapi mereka datang berempat yaitu dengan Azmi, salah satu mahasiswa Universitas Airlangga juga. Dia ikut berbela sungkawa dan menghibur hati dinda.
          Kini Adinda sudah kembali menjalani aktifitasnya seperti biasa, yaitu kuliah, tugas dan organisasi, yang berbeda adalah kini dia selalu ditemani seseorang pria yang baik yaitu Azmi.
          Azmi adalah seorang yang baik, sopan, sholeh, dia tidak pernah meninggalkan kewajibannya untuk sholat, dia selalu menjaga pandangannya dengan wanita yang bukan muhrimnya dan tak pernah bersentuhan dengan wanita. Itu benar-benar lelaki yang diinginkan adinda, laki-laki yang bisa menjadi imam dan bisa menuntunnya menjadi wanita yang sholehah. Tapi kekaguman Adinda hanya disimpannya dalam hati, Adinda yakin ketika Allah sudah berkata “iya” maka semua akan terasa indah.
          Adinda dan Azmi kini berteman semakin dekat, mereka sering sholat berjamah bersama, belajar bersama dan ternyata diam-diam Azmi sudah lama menyimpan rasa untuk Adinda, Azmi selalu bertanya tentang kepribadian juga kebiasaan Adinda kepada Rio sahabat Adinda.
          Sampai akhirnya Azmi lulus dia di wisuda dan Azmi adalah Mahasiswa dengan lulusan terbaik di fakultasnya. Azmi mengenalkan Adinda kepada kedua orangtua Azmi,    Adinda memang menyimpan rasa untuk Azmi tapi dia hanya bisa memendam dan menunggu entah nanti bagaimana cara Tuhan menghadirkan seseorang yang spesial nanti untuk Adinda. Dia juga tidak mau berpacaran karena islam melarang untuk itu, dia memang jatuh cinta pada seorang pria sholeh itu. Begitu dikenalkan dengan Adinda, kedua orangtua Azmi langsung menaruh hati pada seorang gadis berjilbab yaitu Adinda. Adinda seorang gadis lembut, cantik dengan jilbabnya dan baik perlakuannya itu yang membuat orangtua Azmi jatuhcinta pula kepada Adinda.
          Suatu ketika Azmi mengantar Adinda untuk menjenguk pusara kedua orang tua Adinda, mereka berdua berdoa didepan pusara orang tua Adinda dan menjelang pulang Azmi meminta izin Adinda untuk sebentar saja berbicara didepan pusara orangtunya. Adinda pun mengangguk.
          “Ayah, Ibu, saya Muhammad Azmi meminta izin untuk meminang putri cantik ayah ibu yaitu Adinda putri, saya janji akan selalu menemaninya dan berusaha membahagiakan dia”. Sontak airmata Adinda menetes, jantung berdetak kencang, hati sungguh bahagia, tak hentinya batin mengucap syukur kepada Allah.
          “Adinda apakah kamu menerima pinanganku?” tegas Azmi meminta jawaban Adinda. Adinda hanya tersenyum dan mengucap “Bismillaahirrahmaanirrahiim semoga Allah meridhoi”. Mereka berdua tersenyum bahagia dan mengucap syukur.
          Tiga bulan setelah Azmi meminang Adinda, akhirnya pernikahan mereka berlangsung dan kini mereka hidup bahagia. Mereka merasakan indahnya pacaran ketika setelah menikah, Azmi adalah cinta pertama Adinda dan menjadi cinta sejati Adinda. Adinda benar-benar menjaga sebuah komitmennnya yaitu “My First Love is My true Love”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar